................................... ...................................
Agen Bola Tags Populer: #Contoh Proposal #Contoh Surat #Autolike Update #Belanja Online
Sunday, May 06, 2012

Jurnal Jadwal Induk Produksi (MPS)

PENDAHULUAN
Perusahaan industri manufaktur pasti melakukan kegiatan yang dinamakan sistem produksi, dimana sistem produksi itu adalah pembuatan suatu barang dengan mengubah bahan mentah menjadi bahan setengah jadi maupun barang jadi, sehingga mempunyai nilai tambah dan menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Perusahaan-perusahaan industri manufaktur ini biasanya mengalami kesulitan dalam merencanakan dan mengidentifikasi kuantitas dari suatu barang dengan periode waktu tertentu. Oleh karena itu dibutuhkan suatu ilmu yang dapat menyelesaikan masalah tersebut yaitu dengan penjadwalan induk produksi.
Penjadwalan induk produksi ini tidak hanya digunakan untuk merencanakan penjadwalan suatu produk saja melainkan juga untuk menyusun dan memperbaharui penjadwalannya, melakukan proses transaksi dari barang yang dihasilkan, memelihara catatan-catatan penjadwalannya, mengevaluasi efektifitas hasil penjadwalannya, dan memberikan laporan evaluasi dalam periode waktu yang teratur. Jadi, penjadwalan induk produksi ini sangat dibutuhkan dalam suatu perusahaan industri manufaktur karena perencanaannya dibuat secara kompleks dari setiap periode dan membentuk jalinan komunikasi antara bagian pemasaran dan bagian manufacturing.
Penjadwalan induk produksi ini pada dasarnya digunakan oleh perusahaan industri manufaktur untuk mendisagregasikan dan mengimplementasikan rencana produksi. Apabila rencana produksi adalah sebagai hasil dari proses perencanaan produksi, maka dapat dinyatakan dalam bentuk agregat yang berguna untuk mengoptimalkan penggunaan sumber-sumber yang tersedia yang dimiliki oleh perusahaan.
Praktikum Sistem Produksi untuk modul jadwal induk produksi menuntut praktikan untuk dapat melakukan rencana penjadwalan induk produksi dari proses pembuatan produk rak pajangan dengan peride waktu selama 12 bulan, berdasarkan data peramalan produk rak pajangan yang akurat.
Permasalahan yang terdapat dalam jadwal induk produksi adalah bagaimana cara merencanakan jadwal induk produksi rak pajangan dengan masing-masing metode yang digunakan. Bagaimana cara menentukan metode yang tepat sebagai acuan perencanaan produksi agregat.
Pembatasan masalah dalam jadwal induk produksi antara lain produk yang dijadwalkan hanya rak pajangan, data yang digunakan hanya data peramalan terpilih yaitu regresi linier. Periode waktu yang digunakan yaitu 12 bulan. Metode yang digunakan hanya tenaga kerja tetap, tenaga kerja berubah, mix strategi dan metode transportasi.
Tujuan dari pembuatan jadwal induk produksi rak pajangan ini yaitu mengetahui total ongkos produksi dari metode tenaga kerja tetap, tenaga kerja berubah, mix strategi dan transportasi. Mengetahui metode yang terpilih sebagai acuan perencanaan produksi agregat.
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Eddy Herjanto (2003) jadwal induk produksi (master production schedule, MPS) merupakan gambaran atas periode perencanaan dari suatu permintaan, termasuk peramalan, backlog, rencana suplai/penawaran, persediaan akhir, serta kuantitas yang dijanjikan tersedia (available to promise). MPS disusun berdasarkan perencanaan produksi agregat dan merupakan kunci penghubung dalam rantai perencanaan dan pengendalian produksi. MPS berkaitan dengan pemasaran, rencana distribusi, perencanaan produksi dan perencanaan kapasitas.
Menurut Vincent Gaspersz (2004), pada dasarnya jadwal produksi induk (master production schedule = MPS) merupakan suatu pernyataan tentang produk akhir (termasuk parts pengganti dan suku cadang) dari suatu perusahaan industri manufaktur yang merencanakan memproduksi output berkaitan dengan kuantitas dan periode waktu. Aktifitas penjadwalan induk produksi (master production schedulling, MPS) pada dasarnya berkaitan dengan bagaimana menyusun dan memperbaharui jadwal produksi induk (master production schedule = MPS), memproses transaksi dari MPS, memelihara catatan MPS, mengevaluasi efektifitas dari MPS dan memberikan laporan evaluasi dalam periode waktu yang teratur untuk keperluan umpan-balik dan tinjauan ulang. Penjadwalan induk produksi pada dasarnya berkaitan dengan aktifitas melakukan empat fungsi utama adalah sebagai berikut:
1.    Menyediakan atau memberikan input utama kepada sistem perencanaan kebutuhan material dan kapasitas material and capacity requirement planning.
2.      Menjadwalkan pesanan-pesanan produksi dan pembelian (production and purchase orders) untuk item-item MPS.
3.       Memberikan landasan untuk penentuan kebutuhan sumber daya dan kapasitas.
4.       Memberikan basis pembuatan janji tentang penyerahan produk kepada pelanggan.
Sebagai suatu aktivitas proses, penjadwalan produksi induk (MPS) membutuhkan lima input utama. Berikut ini adalah lima input utama dalam penjadwalan induk produksi:
1.   Data Permintaan Total merupakan salah satu sumber data bagi proses penjadawalan produksi induk. Data permintaan total berkaitan dengan ramalan penjualan (sales fore cast) dan pesanan-pesanan (orders).
2.   Status Inventori berkaitan dengan informasi tentang on-hand inventory,stok yang dialokasikan untuk penggunaan tertentu (allocated stock), pesanan-pesanan produksi dan pembelian yang dikeluarkan (released production and purchase orders), dan firm planned orders. MPS harus mengetahui secara akurat berapa banyak inventori yang tersedia dan menentukan berapa banyak yang harus dipesan.
3.    Rencana Produksi memberikan sekumpulan batasan kepada MPS. MPS harus menjumlahkannya untuk meningkatan tingkat produksi, inventori, dan sumber-sumber daya lain dalam rencana produksi itu.
4.    Data Perencanaan berkaitan dengan aturan-aturan tentang lot-sizing yang harus digunakan, stock pengaman (safety stock), dan waktu tinggu (lead time) dari masing-masing item yang biasanya tersedia dalam file induk dari item (item Master file).
5.    Informasi dari RCCP berupa kebutuhan kapasitas untuk mengimpletasikan MPS menjadi salah satu input bagi MPS.
Terdapat juga beberapa kriteria-kriteria dasar pada JIP, yaitu sebagai berikut:
1.        Jenis item tidak terlalu banyak
2.        Kebutuhannya dapat diramalkan
3.        Mempunyai BOM, sehingga kebutuhan komponen dapat dihitung
4.        Dapat diperhitungkan dalam penentuan kapasitas
5.        Menyatakan konfigurasi produk yang dapat dikirim
Menurut Eddy Herjanto (2003), sebelum memasuki lebih lanjut mengenai perencanaan kebutuhan material. Berikut ini adalah Istilah-istilah yang digunakan dalam dalam jadwal induk produksi:
1.        Gross requirements (GR, kebutuhan kasar) adalah keseluruhan jumlah item (komponen yang diperlukan pada suatu perode.
2.        Schedule receips (SR, permintaan yang dijadwalnkan) adalah jumlah item yang akan diterima pada suatu periode tertentu berdasarkan pesanan yang telah dibuat.
3.        On-hand inventory (OI, persediaan di tangan) merupakan proyeksi persediaan yaitu jumlah persediaan pada akhir suatu periode dengan memperhitungkan jumlah persediaan yang ada ditambah dengan jumlah item yang akan diterima atau dikurangi dengan jumlah item yang dipakai/dikeluarkan dari persediaan pada periode itu.
4.        Net requirements (NR, kebutuhan bersih) adalah jumlah kebutuhan bersih dati suatu item yang diperlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan kasar pada suatu periode yang akan datang.
5.        Current inverntory adalah jumlah material secara fisik tersedia dalam gudang pada awal periode.
6.        Allowcated adalah jumlah persediaan yang telah direncakan untuk dialokasikan pada suatu penggunaan tertentu.
7.        Lead time adalah awaktu tenggang yang diperlukan untuk memesan (membuat) suatu barang sejak saat pesanan (pembuatan) dilakukan sampai barang itu diterima (telah dibuat).
Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan dalam penyusunan jadwal induk produksi. Metode-metode yang dapat digunakan antara lain metode tenaga kerja tetap, metode tenaga kerja berubah, metode subkontrak, dan metode transportasi.
Menurut Teguh Baroto (2002), pada alternatif ini jumlah tenaga kerja tetap ditetapkan dan digunakan terus tidak berubah jumlahnya. Saat permintaan meningkat, maka dilakukan lembur. Langkah–langkah penyelesaian untuk alternatif 1 adalah sebagai berikut :
a.       Tentukan Rencana Produksi untuk periode waktu tertentu
Rencana produksi = ramalalan Demandinv. Awal
b.      Tentukan Kebutuhan Jam orang untuk periode waktu tertentu
       Keb.Jam Orang = Rencana produksi  x Waktu baku
c.       Tentukan Kebutuhan Tenaga Kerja untuk periode waktu tertentu
       
Lakukan Perencanaan untuk periode waktu tertentu (lakukan perhitungan secara rinci untuk tiap periode / bulan)
d.      Hitung jumlah unit yang dapat diproduksi pada Regular Time
      
e.       Hitung jumlah unit yang terjadi diproduksi Over Time (jika diperlukan)
Nilai UPOT ada jika melebihi besarnya kapasitas (tabel kapasitas), maka yang dimasukkan besarnya nilai kapasitas dan untuk sisanya dimasukkan ke sub-kontrak.
f.       Hitung jumlah unit yang dapat diproduksi pada Sub- kontrak (jika diperlukan)
Sub-kontrak ada jika nilai UPOT melebihi nilai kapasitas (yang ada dalam tabel kapasitas), maka sisanya dapat dimasukkan ke sub-kontrak.

g.      Hitung Inventory Akhir pada tiap periode
Inv. Akhir = UPRT – Demmand + Inv. Awal
h.      Hitung semua Ongkos yang terjadi (Total Cost)
Menurut Teguh Baroto (2002), tenaga kerja berubah berdasarkan data historis manajement dapat memperkirakan produktifitas rata-rata per tenaga kerja sehingga dapat menentukan jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk memenuhi target produksi per periode. Saat tingkat produksi rendah dapat dilakukan pelepasan tenaga kerja dan sebaliknya, pada tingkat produksi tinggi dapat dilakukan perekrutan. Langkah–langkah  penyelesaian untuk alternatif 2 adalah sebagai berikut :
a.         Tentukan Rencana Produksi untuk periode waktu tertentu
Rencana produksi = ramalan Demandinv. Awal
b.        Tentukan Kebutuhan Jam orang untuk periode waktu tertentu
        Keb.Jam Orang = Rencana produksi  x Waktu baku
c.         Tentukan Kebutuhan Tenaga Kerja untuk periode waktu tertentu
d.    Lakukan Perencanaan untuk periode waktu tertentu (lakukan perhitungn secara rinci untuk tiap periode )
               i.       Hitung jumlah unit yang dapat diproduksi pada Regular Time
               
          ii.     Hitung jumlah unit yang terjadi diproduksi Over Time (jika diperlukan) Nilai UPOT ada jika melebihi besarnya kapasitas (tabel kapasitas), maka yang dimasukkan besarnya nilai kapasitas dan untuk sisanya dimasukkan ke sub-kontrak.
        iii.   jumlah unit yang dapat diproduksi pada Sub-kontrak (jika diperlukan) Sub-kontrak ada jika nilai UPOT melebihi nilai kapasitas (yang ada dalam tabel kapasitas), maka sisanya dapat dimasukkan ke sub-kontrak.
           iv.        Hitung Inventory Akhir pada tiap periode/bulan
              Inv. Akhir = UPRT – Demmand + Inv. Awal
             v.     Hitung semua Ongkos yang terjadi (Total Cost)
Metode Mix Strategy adalah metode perencanaan produksi agregat yang menggabungkan metode tenaga kerja tetap dengan metode tenaga kerja berubah. Metode Mix Strategy hanya menggabungkan nilai-nilai yang didapat pada metode Tenaga Kerja Tetap dan metode Tenaga Kerja Berubah.
Metode Transportasi merupakan metode perencanaan produksi agregat yang berfungsi untuk menentukan rencana pengiriman barang dengan biaya minimal. Masalah transportasi membahas pendistribusian suatu komoditas dari sejumlah sumber (supply) ke sejumlah tujuan (demand) dengan tujuan untuk meminimumkan biaya yang terjadi dari kegiatan tersebut, karena ide dasar dari masalah transportasi adalah meminimasi biaya total transportasi. Ciri dari masalah transportasi antara lain:
a.        Terdapat sejumlah sumber dan sejumlah tujuan.
b.       Kuantitas komoditas sumber tujuan besarnya tertentu.
c.        Jumlah pengiriman komoditas sesuai kapasitas sumber atau tujuan.
d.       Biaya yang terjadi besarnya tertentu.

Untuk Lebih jelasnya silahkan klik disini




Mohon Maaf Jika ada kesalahan dalam bentuk Apapun

Baroto, Teguh. Perencanaan dan Pengendalian Persediaan. Ghalia Indonesia. Jakarta. 2002.
Gasperz, Vincent, Production Planning and Inventory Control berdasarkan pendekatan sistem terintergrasi MRP II dan JIT menuju manufaktur 21, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004.
Herjanto, Eddy, Manajemen Produksi dan Operasi, Cetakan Ketiga, Jakarta, PT. Grasindo, 2003.
http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=18748

4 komentar:

Silahkan Berkomentar Sahabat. Jangan malu untuk menulis komentar. Pembaca yang baik akan selalu berkomentar Positif. Semoga komentar anda dapat memberi inspirasi bagi penulis. Dimohon untuk tidak berkomentar dengan Kata-kata yang dianggap tidak sopan. "Komentar Akan di Moderasi" Terimakasih dan Mohon Maaf Jika Komentar Lambat di Respon... Tinggalkan jejakmu Dibawah ini:

Terima Kasih Sudah Menyempatkan Waktu untuk Berkomentar

Linkon Bedava - Free Backlink
free counters
Quick Random Post