................................... ...................................
Agen Bola Tags Populer: #Contoh Proposal #Contoh Surat #Autolike Update #Belanja Online
Tuesday, January 21, 2014

Psikologi dalam Kewiraswastaan

Tinjauan Teori Psikologi Kewiraswastaan

1. Psikologi dalam Kewiraswastaan 

Psikologi memiliki definisi yang telah disepakati oleh pakar ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yaitu the scientific study of behavior yang artinya studi ilmiah tentang prilaku. Dari arti tersebut dapat memahami sisi unik kepribadian dan kejiwaan dari diri seseorang. Tinjauan kewiraswastaan dari perspektif Psikologi lebih terfokus pada pertanyaan mengapa secara individual ada orang dapat yang memanfaatkan peluang? Mengapa yang lain tidak? Mengapa ada pengusaha yang sukses? Mengapa ada yang tidak sukses? Melihat sebuah peluang menjadi awal suatu ide untuk menancapkan sebuah roda usaha. Namun, hal tersebut perlu ditindaklanjuti dengan upaya eksploitasi peluang sehingga menciptakan keuntungan yang menjanjikan. Dalam hal ini, tidak semua orang mampu melihat peluang usaha. Terdapat beberapa karakteristik kepribadian seseorang yang akan mempengaruhi dirinya dalam cara mengorganisasikan peluang wirausaha. Kepribadian yang berbeda akan menunjukkan perbedaan cara dalam menghadapi tantangan meski berada dalam situasi yang sama.

Wiraswasta adalah orang yang berani bersikap, berfikir dan bertindak menurut kemampuan dan keberanian untuk menciptakan pekerjaan sendiri, mencari nafkah dan berkarir dengan sikap mandiri. Seseorang yang memiliki dorongan untuk menciptakan sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan, disertai modal dan resiko, serta menerima balas jasa dan kepuasan serta kebebasan pribadi atas usahanya tersebut.

2. Ciri-ciri Psikologi Seorang Wiraswasta 
Menurut Imam S. Sukardi (1984) berpendapat bahwa seorang wiraswasta adalah :
a. Seorang yang supel dan fleksibel dalam bergaul, mampu menerima kritik dan mampu melakukan komunikasi yang efektif dengan orang lain.
b. Seseorang yang mampu dan dapat memanfaatkan kesempatan usaha yang ada.
c. Seseorang yang berani mengambil risiko yang telah diperhitungkan atas hal-hal yang akan dikerjakan serta menyenangi tugas-tugas yang efektif dengan orang lain.
d. Seseorang yang memiliki pandangan yang ke depan, cerdik, lihai, dapat menanggapi situasi yang berubah-ubah serta tahan terhadap situasi yang tidak menentu (istilah sekarang tahan bantingan).
e. Seseorang yang dengan oto-aktivitasnya mampu menemukan sesuatu yang orisinil dari pemikiran sendiri dan mampu menciptakan hal-hal baru serta kreatif.
f. Seseorang yang mempercayai kemampuan sendiri, kemampuan untuk bekerja mandiri, optimis dan dinamis serta memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin.
g. Seseorang yang mampu dan menguasai berbagai pengetahuan maupun ketrampilan dalam menyusun, menjalankan dan mencapai tujuan organisasi usaha, manajemen umum dan berbagai bidang pengetahuan lain yang menyangkut dunia usaha.
h. Seseorang yang memiliki motivasi yang kuat untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik, mengutamakan prestasi, selalu memperhitungkan faktor penghambat maupun penunjang, tekun, kerja keras, teguh dalam pendirian dan berdisiplin tinggi.
i. Seseorang yang memperhatikan lingkungan sosial untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik bagi semua orang.

3. Bagaimana Kewiraswastaan di Indonesia 
Wiraswastawan cenderung memiliki beberapa ciri tingkah laku yang menonjol, antara lain :
1) Bertanggung jawab secara pribadi atas segala tindakannya.
2) Berusaha mengerjakan tugas dengan cara-cara baru yang kreatif.
3) Mengharapkan adanya umpan balik dari tugas yang dikerjakan.
4) Mempunyai taraf aspirasi yang realistis untuk pencapaian tujuan dimasa depan.
5) Dalam dirinya selalu ada keraguan untuk meraih prestasi yang lebih baik dan untuk itu mau bekerja keras.
6) Selalu memperhitungkan risiko dari tugas yang dikerjakan sehingga cenderung menetapkan tujuan yang sedang-sedang risikonya.

Mengenai sikap mental wiraswastawan dijelaskan oleh Mattulada (1985) yang cukup dianggap mewakili kondisi masyarakat Indonesia, yaitu :
a. Tanggapan terhadap waktu.
b. Tanggapan terhadap hakikat hidup.
c. Tanggapan terhadap hubungan dengan sesama manusia.
d. Tanggapan terhadap kerja.
e. Tanggapan terhadap alam.

Dalam hal ini Mochtar Lubis berpendapat bahwa manusia Indonesia memiliki ciri-ciri berikut : munafik (hipokrit), segan dan enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, percaya tahayul, artistik, punya watak yang lemah, tidak hemat, dan tidak bekerja keras.

Faktor sikap mental manusia itu sendiri sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan wiraswastawan dan lebih jauh lagi terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Banyak ahli berpendapat bahwa sikap mental tersebut harus segera diubah, atau paling tidak disesuaikan dengan tuntutan situasi yang semakin maju dan berkembang. Adapun sikap mental yang harus dikembangkan mengarah kepada :
(1) efisiensi
(2) kerajinan
(3) ketertiban
(4) ketelitian
(5) kesederhanaan
(6) kejujuran
(7) kemampuan mengambil keputusan secara rasional
(8) siap dan peka terhadap perubahan
(9) mampu melihat peluang
(10) mempunyai semangat kerja
(11) ketulusan dan percaya diri
(12) mampu bekerja sama, dan
(13) berpandangan jauh ke depan.

Masalah Pengembangan Kewiraswastaan

Pandangan psikologik berarti menitikberatkan pada segi aktivitas manusianya. William James seorang psikologi Amerika memperkirakan bahwa orang biasa baru menggunakan lebih kurang 10% dari kemampuan-kemampuannya. Margareth Mead berpendapat sekitar 6%, sedangkan Herbert Otto punya perkiraan yang lebih rendah, yaitu sekitar 4%.

Proses Perkembangan Wiraswasta

Menurut hasil penelitian para ahli ilmu sosial ditemukan adanya ciri-ciri/karakteristik untuk seorang wiraswasta sebagai berikut :
1) Mempunyai rasa percaya dan harga diri yang kuat.
2) Ingin menciptakan sesuatu yang orisinil.
3) Lebih berorientasi pada terlaksananya tugas/produktif.
4) Orientasi pada masa depan.
5) Berani mengambil risiko.
6) Berorientasi pada hubungan manusia.

Profil Wiraswasta yang Berhasil Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh ahli-ahli ilmu-ilmu sosial keberhasilan seorang wiraswasta apabila ditinjau dari karakteristik psikologiknya, mereka itu mempunyai profil karakteristik psikologik tertentu yaitu : (Imam Santoso Sukardi, 1979) :

1) Self confidence, merupakan kepercayaan terhadap kemampuan dia sendiri untuk bekerja sendiri, bersikap optimis dan dinamik, memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin.
2) Originality, merupakan kemampuan untuk menciptakan hal-hal yang baru.
3) People Oriented, salah satu ciri dari pengusaha yang berhasil dalam tindakannya selalu mempergunakan orang lain sebagai feed-back terhadap apa yang sudah dikerjakan, baik langsung maupun tidak langsung.
4) Task-result oriented, merupakan tingkah laku yang tertuju untuk menjelaskan tugas.
5) Future-oriented, merupakan kesediaan untuk kemampuan berpandangan jauh ke depan, mengenai hal-hal yang akan terjadi, yang mempengaruhi perlakuan dalam usahanya.
6) Risk-taking, merupakan kemampuan untuk mengambil risiko atas hal-hal yang dikerjakannya, bila gagal tidak mencari “kambing hitam”.


Karuniadi (1978) memberikan gambaran mengenai ciri-ciri tingkah laku pengusaha yang berhasil, sebagai berikut :
a. Terbuka terhadap saran-saran dari orang lain terhadap apa yang telah dilakukannya.
b. Mempunyai fikiran yang dipusatkan kepada satu hal pada satu waktu.
c. Adanya kegairahan maupun semangat yang menyala-nyala terhadap apa yang dibuat.
d. Dapat menganalisis sesuatu masalah secara sistematik.
e. Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat dan haus akan ilmu pengetahuan.
f. Mempunyai inisiatif yang menonjol atau berani mengambil langkah-langkah baru yang lain dari kebiasaan (tradisi).

Menurut Mc Ber & Company (1974), pola tingkah laku dalam menetapkan tujuan prestasi ada lima faktor, yaitu :
a. Realistic, artinya seseorang pengejar prestasi didalam menetapkan tujuan harus cukup realistik sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
b. Challenging, artinya tujuan itu sendiri harus mempunyai tantangan.
c. Time-phased, artinya adanya batasan waktu yang ditetapkan oleh individu guna mengakhiri dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan pencapaian tujuan.
d. Specific, artinya kejelasan dari tujuan yang ingin dicapainya dapat diformulasikan secara konkret.
e. Measurable, artinya tujuan itu harus dapat diketahui dan diukur akhirnya.

Perilaku kewiraswastaan disimpulkan sebagai berikut :
1) Dorongan untuk berprestasi berpengaruh terhadap perkembangan atau hasil usaha seseorang.
2) Individu yang mempunyai kebutuhan berprestasi yagn tinggi cenderung memiliki profesi bisnis atau usaha.
3) Individu yang mempunyai kebutuhan berprestasi tinggi cenderung menetapkan tingkat aspirasi secara realistik.
4) Individu yang mempunyai kebutuhan untuk berprestasi yang tinggi, selalu memiliki tugas atau pekerja yang mempunyai risiko yang sedang, dan selalu mementingkan hasil akhir yang baik, sesuai dengan standar yang ditetapkan sendiri.
5) Kebutuhan berprestasi dari para pengusaha dari berbagai latar belakang kebudayaan pada prinsipnya dapat lebih dikembangkan.
6) Keberhasilan para pengusaha di negara-negara sedang berkembang disebabkan salah satu faktornya yaitu mempunyai kebutuhan berprestasi yang tinggi.
7) Dengan kebutuhan berprestasi yang tinggi memungkinkan seorang pengusaha mempunyai inisiatif yang tinggi, mau mengeksplorasi, dan secara kontinu mengadakan penelitian terhadap lingkungan guna menemukan cara-cara yang baru untuk dapat memecahkan masalahnya secara memuaskan.

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Berkomentar Sahabat. Jangan malu untuk menulis komentar. Pembaca yang baik akan selalu berkomentar Positif. Semoga komentar anda dapat memberi inspirasi bagi penulis. Dimohon untuk tidak berkomentar dengan Kata-kata yang dianggap tidak sopan. "Komentar Akan di Moderasi" Terimakasih dan Mohon Maaf Jika Komentar Lambat di Respon... Tinggalkan jejakmu Dibawah ini:

Terima Kasih Sudah Menyempatkan Waktu untuk Berkomentar

Linkon Bedava - Free Backlink
free counters
Quick Random Post